IDEOLOGI FASIS BERKEMBANG DI INDONESIA.
Sutan Sjahrir dan Amir Sjarifoeddin itu sama-sama sirkel pemuda yang lebih milih dijajah Belanda ketimbang Jepang. Mereka adalah ideolog sayap kiri didikan Belanda, mereka tahu kalau Eropa itu sebiadab-biadabnya masih jauh lebih beradab ketimbang Asia. Adapun kebanyakan golongan muda saat itu berasal dari sayap kanan Islam dan nasionalis yang cukup radikal. Mereka lebih suka berjudi dengan nasib dalam mendukung Jepang demi mengusir Belanda, lalu harap-harap cemas agar diberi hadiah kemerdekaan oleh Jepang.
Yang mereka tidak tahu adalah Jepang sudah kehabisan banyak SDA untuk melanjutkan perang di Tiongkok. Makanya Jepang diam-diam itu butuh untuk mengeksploitasi Indonesia besar-besaran. SDA yang sangat dibutuhkan oleh Jepang diantaranya: minyak bumi, makanan, karet, timah, tembaga, dan lain-lain. Selain itu, Nusantara bisa menjadi buffer zone yang enak untuk mencegah serangan sekutu ke Indochina. Jadi Jepang tinggal fokus mempersenjatai Laut Jawa, Laut Banda, serta Pasifik itu sendiri.
Tercatat Sutan Sjahrir dan Amir Sjarifoeddin adalah dua pemuda yang sudah mengingatkan bahaya laten fasisme. Bahkan di tahun 1937, Amir Sjarifoeddin sempat membuat Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) bersama Muhammad Yamin, Adnan Kapau Gani, Sartono, Wilopo, dkk. Gerindo ini sudah jelas organisasi kiri yang anti dengan fasisme. Mereka percaya dengan Doktrin Dimitrov
yang menyuarakan pendirian front global anti-fasisme. Sebelum Jerman ribut-ribut di Eropa, Sjahrir dan Sjarifoeddin sudah mengawasi baik-baik perkembangan Jepang, dan mereka adalah segelintir intelektual yang sempat mengingatkan bahayanya Jepang di Asia. Bahkan Sjarifoeddin menyuarakan boikot terhadap Jepang.Baik Sjahrir maupun Sjarifoeddin, keduanya sama-sama kolaborator Belanda. Keduanya dibenci, tapi akhirnya disayang karena semua koneksi diplomasi Indonesia kalau tak dimulai dari karisma Soekarno, kemungkinan besar dimulai dari Sjahrir dan Sjarifoeddin. Dua-duanya lebih menyukai kemerdekaan yang terstruktur dan didukung Master Kolonial ketimbang main konfrontasi tak jelas.
Bahkan di masa Pendudukan Jepang, Sjarifoeddin diberi dana kira-kira sebesar 25,000 Gulden oleh intelijen Belanda untuk mendirikan jejaring intelijen dan perlawanan bawah tanah terhadap Jepang. Jepang tentunya kocar-kacir, dan tiap tokoh politik dipaksa untuk memilih, antara menjadi tokoh netral yang berhubungan dengan rakyat saja, atau menjadi tokoh yang secara aktif berkolaborasi dengan Jepang. Sjarifoeddin ini orang gila, dia memilih untuk tetap melawan Jepang.
Sjarifoeddin sempat ditangkap pada tahun 1943. Satu-satunya alasan dia lolos dari eksekusi hanya karena intervensi Bung Karno yang pengaruhnya diakui oleh Jepang. Sebagai catatan, Bung Karno berjasa dalam mempersatukan seluruh Nusantara (terutama Jawa dan Sumatra) untuk membantu Jepang bersiap-siap dengan kemungkinan invasi Sekutu. Heiho, PETA, dan segala organisasi militer bawahan Jepang itu takkan mungkin tanpa tokoh seperti Bung Karno.
Selain karena tokoh seperti Sutan Sjahrir dan Amir Sjarifoeddin, sebetulnya sudah sejak lama Indonesia itu beraliran kiri. Ini karena kebanyakan orang di Hindia Belanda memang orang bawah yang susah, karena itu sayap politik yang lebih relate dengan mereka memang yang coraknya buruh-buruhan dan tani-tanian. Biasanya mereka datang dari ideologi sosialisme dan komunisme.
Fasisme jelas tak laku di Indonesia. Sebab cita-cita pergerakan nasional yang ada malah bertentangan dengan fasisme. Kaum terjajah pastinya lebih ingin membangun tatanan baru ketimbang mempertahankan tatanan opresif.
Tercatat kebanyakan tokoh nasional itu sayap kiri. Mau tahu siapa saja?
Delegasi pertama Indonesia di Dewan Keamanan PBB pada tahun 1947. Saat itu Sutan Sjahrir baru saja turun dari posisinya sebagai PM, dan di masa ini sebagai PM menjabatlah Amir Sjarifoeddin, kongsi dari Sjahrir. Pada gambar di atas, rata-rata dari mereka bercorak kiri.
Dari kiri ke kanan: Soedjatmoko (intelek, jurnalis dari media aliran kiri, anggota Partai Sosialis Indonesia), Soemitro Djojohadikoesoemo (ayah Prabowo Subianto, intelek dan ekonom, pendukung lawan Franco di Perang Saudara Spanyol yang jelas beraliran kiri dan dekat dengan Moskow), Charles Tambu, H. Agus Salim (tokoh Islam golongan tua yang beraliran kiri).
Dari kiri ke kanan: Adnan Kapau Gani (pentolan PNI garis sentris-kiri, anggota Kabinet Sjahrir III, Kabinet Sjarifoeddin I, dan Kabinet Sjarifoeddin II), Amir Sjarifoeddin (pentolan sosialis Indonesia, salah satu dalang Peristiwa 1948 Madiun), Oerip Soemohardjo, dan Mohamad Isa.
Sang Sage: H. Oemar Said Tjokroaminoto. Beliau adalah guru dari banyak tokoh kiri seperti Semaoen, Alimin, Musso, dan Tan Malaka. Tjokroaminoto juga pentolan Sarekat Islam yang jelas di awal haluannya sudah kiri dan egalitarian. Pecahnya SI harusnya bukan perpecahan antara putih dan merah, tapi lebih perpecahan antara merah dan merah pekat (sosialis radikal dan komunis).
Faktor lain yang mencegah berdirinya sayap kanan radikal seperti fasisme adalah "netralitas" TNI. TNI sejak awal didoktrin oleh tokoh seperti Sudirman dan Oerip Soemohardjo bahwa TNI itu adalah organisasi superior yang berdiri "di atas" politik demi persatuan bangsa. Di satu sisi TNI itu netral dan tak boleh berpolitik praktis. Tapi di sisi lain TNI wajib untuk mementung pemimpin bangsa yang merusak dan tak berpihak pada rakyat. Dengan doktrin tersebut, sulit bagi faksi-faksi politis di TNI untuk bisa bangkit menjadi penguasa, terutama pada masa revolusi.
Peran TNI yang dinilai bisa bablas ini juga pernah mau direm oleh Sjahrir dan Sjarifoeddin. Tercatat Sjahrir pernah memindahkan posisi Sjarifoeddin dari Menteri Penerangan menjadi Menteri Pertahanan demi mereformasi TNI dari organisasi superior yang berdiri "di atas" politik menjadi alat pelaksana kebijakan pemerintah pusat. Upaya ini gagal, sebab para prajurit lebih respek dengan tokoh-tokoh yang sudah terbukti macam Sudirman.
Akhirnya, Sjahrir dan Sjarifoeddin hanya sukses menggandeng beberapa sub-organisasi TNI saja. Salah satu yang berhasil dicengkeram adalah Divisi Siliwangi di Jawa Barat. Divisi Siliwangi ini nantinya tercatat sebagai divisi paling pro-pemerintah dan paling melaksanakan perintah pusat. Segala macam pemberontakan biasanya ditebas langsung oleh Siliwangi. Sementara divisi lain lebih melihat konflik ini sebagai "aspirasi".
Hal lain yang jarang diketahui oleh orang Indonesia adalah, Sjahrir dan Sjarifoeddin ini bisa dikatakan tokoh nasional pertama yang benar-benar safari dan turun ke jalan untuk mendekatkan diri dengan rakyat. Awal mula daerah-daerah bisa nurut sama Jakarta malah bukan karena karisma Bung Karno. Karisma Bung Karno tidak pernah cukup untuk meredam emosi meledak-ledak golongan super muda di daerah yang suka main bantai sana dan sini berdasarkan tuduhan tak jelas yang tak ada bukti konkret dan juga tak ada persidangan untuk tertuduh. Adalah Sjahrir dan Sjarifoeddin lewat kongsi sosialisnya yang sukses membuat rantai komando pusat ke daerah menjadi efektif. Makanya ideolog kiri lebih dikenal oleh rakyat ketimbang ideolog kanan.
Lagipula,
rata-rata ideolog kanan itu sifatnya tradisional. Mereka kebanyakan
datang dari kaum bangsawan yang masih mendukung hierarki serta privilese
kaum darah biru. Corak ideologi kanan yang mereka anut sangat jauh dari
fasisme, malah lebih condong ke feudalisme yang reaksionaris
(konservatif radikal).
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-9679949182465754"
crossorigin="anonymous"></script>